Minggu, 23 Mei 2010

Pendidikan sebagai sebuah industri

Pendidikan sebagai sebuah industri

DENGAN makin berkembangnya manusia, berkembang pula ilmu pengetahuan dan teknologi di segala bidang. Itu semua mengharuskan pendidikan menyesuaikan langkahnya jika ingin tetap relevan. Hal itu menjadikan pendidikan kian mahal, satu kenyataan yang sering kurang disadari banyak orang. Di pihak lain berkembangnya umat manusia mendorong makin banyak orang untuk maju dan tak mau tertinggal. Dan mereka semua memerlukan pendidikan yang baik.
Akibatnya, baik faktor kualitas maupun kuantitas pendidikan tidak dapat diabaikan. Pendidikan harus diselenggarakan secara bermutu dan adil merata bagi seluruh rakyat yang berminat. Maka, pendidikan yang sudah mahal, karena harus mencapai kualitas, menjadi makin mahal karena harus pula melayani kuantitas.

Berdasarkan pustaka pendidikan sebagai industri, Amirika Serikat salah satu diantara negara adikuasa yang menerapkan pendidikan sebagai industri, berhasil sangat luar biasa. Pada tahun 1975 – 1976 memperkerjakan guru-guru 3 juta personil, dan membiayai 10 juta sector pendidikan formal, dan setiap tahunnya biaya pendidikan Amirika lebih 12 % dari pendapatan Nasional ( GNP ) dari komponen industri pendidikan di eksplotasi total ( detail ).
Terdaftar nama secara total dalam penghasilan lebih kurang 45 juta tahun 1959 – 1960, dan lebih 49 juta orang tahun 1975 – 1976 . hal ini nampak kemajuan, tetapi bagaimana pada 1975 – 1976 awal mereka mendaftar pada sekolah dasar dan lanjutan relatif berkurang dari tahun 1969 – 1970 karena atas pertimbangan kelahiran dari perhitungan proyeksi tahun 1983.
Ekonomi pendidikan didukung oleh intansi negeri dan swasta. Hal ini merupakan suatu kewajaran dengan menguatnya pendidikan sebagai industri tenaga kerja intensive. Di Amirika Serikat pada tahun 1979 ada 7,66 % ( 7.416. 000 ) pekerja total dari total seluruh pekerja, bekerja di sector pendidikan baik bagi lembaga negeri maupun swasta , dimana sekitar 2 / 3 tenaga pekerja tersebut merupakan tenaga professional. Jumlah pekerja sector jasa diatas 7.416. 000 belum termasuk pekerja yang berkerja di sector jasa pendidikan yaitu swasta yang memproduksi jasa dan barang bagi kebutuhan industri pendidikan seperti percetakan dan penerbitan buku.
Kenyataan diatas memperlihatkan bahwa pendidikan merupakan lahan subur ekonomi yang besar dalam industri modern. Pendidikan merupakan barang ( baik materi maupun non materi ) produsen dan konsumen sekaligus penghasil produk pendidikan yang professional.
Sistem pendidikan Indonesia memerlukan perubahan yang radikal ke sistem yang memandang pendidikan sebagai industri. Sistem ini akan mampu menjalankan subsidi silang dalam dunia pendidikan, sekaligus bisa meningkatkan devisa negara. Sistem pendidikan yang paling sesuai adalah yang berasal dari, oleh, dan untuk rakyat Indonesia sendiri.
Hal itu dikatakan Guru Besar dan Vice Chancellor of Curtin University dan President of Bond University Australia Prof Don Watts AMTSE kepada wartawan setelah menjadi tamu kehormatan pada wisuda angkatan pertama lulusan President University di Kawasan Industri Jababeka, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (9/12).
Menurut Don, perjuangannya sejak 1985 untuk mendorong sistem pendidikan yang mampu dipandang sebagai industri, awalnya mendapat tentangan keras dari pemerintahan Australia. Pasalnya, sistem pendidikan yang terbuka bagi dunia internasional ini benar-benar memperhitungkan kehadiran komunitas asing sebagai sumber devisa. "Dengan demikian siswa dari negara luar dapat menyubsidi calon mahasiswa yang cerdas, namun kurang mampu dari segi finansial," katanya. Berkat perjuangannya, akhirnya pemerintah mendukung sistem yang diperkenalkan Don karena mampu meningkatkan devisa pemerintah Australia sebesar 7,1 miliar dolar Australia atau sekitar Rp 49 triliun. "
Menurut Don, jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 220 juta jiwa merupakan tantangan besar bagi dunia pendidikan di Indonesia. Terlebih, hanya sebagian kecil dari jumlah itu yang termasuk golongan mampu. Kondisi itu, menurut Don, bisa saja dicermati dengan menciptakan sistem perpajakan yang mampu mengajak pemilik dana untuk menyisihkan sebagian hartanya secara sukarela ke dalam dunia pendidikan. Selain itu menurut Don Agar berhasil, menurut Don, tahap awal pendirian universitas harus fokus pada satu tujuan, yakni menjadi perguruan tinggi yang berhasil dalam mendidik (excellent teaching university) sehingga mampu menciptakan lulusan dan memiliki tenaga pengajar berkualitas tinggi. Setelah itu, perguruan tinggi dapat mengejar target membangun pusat riset yang diakui dunia internasional. "Perguruan tinggi yang langsung mengejar target menjadi pusat riset besar tidak akan maju," .
Pendidikan sebagai barang ekonomi dapat pula dikatakan sebagai hasil industri yang dapat dijual belikan ( pertukarkan ), namun seseorang tidak secara langsung dapat menjual atau menukar pendidikannya dengan barang ekonomi lainnya. Tapi jelas bahwa pendidikan dapat digunakan sebagai nilai alat tukar untuk menghasilkan barang meteri dan non materi.
Australia mampu menjadikan pendidikan sebagai salah satu industri terbesar penyumbang devisa, di mana pemerintahnya menciptakan standar yang jelas, infrastruktur dan kemudahan bagi sekolah berupa network dan endorsement. Jika kita berkunjung ke sekolah-sekolah di Singapore dan Malaysia, sangat banyak mahasiswa dari Indonesia dan tidak sedikit yang berprestasi sangat baik. Pelajar-pelajar terbaik dari negara tersebut malah menuntut ilmu di negara-negara lain yang lebih berkembang, misalnya Amerika dan Australia. Untuk lebih mendekatkan diri kepada customer, banyak sekolah dari luar negeri masuk ke Indonesia seperti Australia dengan Monash dan RMIT, Malaysia dengan Inti College, India dengan NIIT, Singapore dengan Informatics dan Canada dengan LaSalle College. Model yang digunakan adalah tahun awal belajar di Indonesia dan dilanjutkan di luar negeri, sering disebut sebagai pre-university ataupun kemudahan transfer ke luar negeri.

Komoditasi pendidikan ini memberikan manfaat positif bagi masyarakat karena terjadi liberasi pengetahuan. Pendidikan menjadi salah satu kekuatan ekonomi dan industri. Daerah yang tadinya tertinggal perkembangannya kini menjadi prospek pasar masa depan dengan daya beli dan kemampuan ekonomi yang besar. Ilmu yang tadinya sulit didapat menjadi accessible bagi banyak orang.
Komoditasi pendidikan seperti ini menuntut pengelolaan sekolah tidak lagi sebagai institusi yang product-oriented, tetapi sekolah perlu menghadapi era kompetisi global yang membutuhkan kemampuan membangun brand dan mengkomunikasikannya kepada publik. Kurikulum, pengajar, metode pengajaran tidak lagi dipandang menjadi bahan generik, tetapi merupakan bagian dari konsep positioning sekolah.

Mau tidak mau, sekolah dan bidang pembelajaran akan mengalami cycle seperti bisnis lain. Produk yang masih berada di masa formatif sesuai untuk para early adopter sangat membutuhkan product excellence. Untuk berpindah ke market yang lebih besar, kendala yang dihadapi adalah standarisasi kurikulum, modul dan pengajar, juga reduksi cost sehingga harga bisa terjangkau masyarakat luas.

Begitu memasuki era market mainstream di mana mayoritas customer adalah early dan late majority, produk harus mampu memenuhi kebutuhan dan permintaan pasar, baik dari sisi harga maupun availability. Dalam hal ini institusi harus berkonsentrasi pada distribusi dan marketing, sedang dari sisi kurikulum dan produk mereka akan mulai bermitra atau melisensi
Untuk tetap stay ahead in the competition, tetap diperlukan strategi inovasi dan pengembangan produk di masa depan. Salah satu teknik yang sangat sukses mengidentifikasi kebutuhan pasar adalah dengan membentuk komunitas.
Inggris dengan British Council membuktikan hal ini. Mempromosikan kegiatan budaya akan menarik komunitas awal (disebut alpha pada buku Buzz: Harness the Power of Influence and Create Demand – Marian Salzman) yang akan mempengaruhi komunitas yang lebih besar (disebut bees). Riri Riza dan Ira Kusno sebagai penerima beasiswa dari Inggris adalah para alpha yang menjadi influencer para bees – siswa dan pelajar di British Council yang nantinya mempengaruhi mainstream market.


Model Pendidikan Masa Depan Kategorisasi pendidikan tidak lagi hanya terbatas dari sisi fasilitas yang tangible, terobosan-terobosan model pembelajaran akan terus bermunculan dan banyak akan muncul dalam bentuk intangible. Contohnya seperti home schooling, yang populer di kalangan gereja, atau e-learning yang meskipun saat inipun di negara maju tingkat keberhasilan masih di bawah 30%, masih terus mengalami evolusi sehingga bisa diterima publik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar